Selain masalah lahan, Wakil Gubernur juga menekankan pentingnya hilirisasi dan pengelolaan pasca panen agar harga di tingkat petani tetap stabil saat terjadi puncak panen raya.
“Kita harus sadari bersama, tantangan ke depan adalah ke mana hasil panen ini akan dibawa saat mencapai puncaknya. Kita perlu menyediakan fasilitas pengolahan pasca panen dan memfasilitasi pengusaha peternak untuk menyerap langsung hasil dari kelompok tani. Kami berharap Bulog terus memfasilitasi agar petani tidak kesulitan menjual hasil panennya, sehingga kesejahteraan mereka benar-benar meningkat,” tegas Indah Damayanti Putri.
Wagub juga mengingatkan para pendamping petani untuk terus mengedukasi penggunaan pupuk yang bijak.
Penggunaan pupuk yang tidak berlebihan sangat krusial untuk menjaga kesuburan tanah agar tetap produktif bagi generasi mendatang.
Pendampingan Bhabinkamtibmas dan Sinergi Berkelanjutan
Keberhasilan panen di Kuartal I ini tidak lepas dari peran aktif Bhabinkamtibmas yang melaksanakan pendampingan langsung kepada 20 kelompok tani binaan Polri.
Kelompok tani ini menjadi mitra strategis dalam memastikan program ketahanan pangan berjalan sesuai rencana, mulai dari penanaman hingga masa panen.
Sebagai langkah keberlanjutan, Polda NTB berencana menggelar koordinasi dan evaluasi ketahanan pangan pada minggu depan. Akan melibatkan seluruh unsur terkait guna mengoptimalkan produksi jagung di sepanjang tahun 2026.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan bantuan sosial kepada Kelompok Tani Gunungsari, prosesi panen jagung secara simbolis oleh para tamu undangan. Serta sesi Zoom Meeting bersama Mabes Polri untuk melaporkan hasil panen raya jagung serentak secara nasional.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat tani, NTB optimis dapat terus berkontribusi sebagai lumbung jagung nasional yang memiliki daya saing tinggi.












