Lombok Barat, NTB – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus dilakukan hingga ke level desa melalui kolaborasi aktif antara aparat kepolisian dan masyarakat tani. Pada Minggu (4/1/2026), Kepolisian Sektor (Polsek) Labuapi melalui Bhabinkamtibmas Desa Karang Bongkot melaksanakan pemantauan sekaligus edukasi langsung di area persawahan warga yang baru saja menyelesaikan masa panen padi.
Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan nyata Polri terhadap keberlanjutan sektor pertanian di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Dalam kegiatan tersebut, fokus utama yang disampaikan adalah optimalisasi lahan pasca-panen padi dengan beralih ke tanaman palawija, khususnya jagung, menggunakan teknologi pertanian yang lebih efisien.
Optimalisasi Lahan Pasca-Panen Padi
Memasuki fase setelah panen padi, lahan persawahan sering kali dibiarkan menganggur dalam waktu yang cukup lama sebelum masa tanam berikutnya tiba. Melihat potensi lahan yang masih sangat produktif, Bhabinkamtibmas Desa Karang Bongkot turun ke lapangan untuk mengajak para petani segera memanfaatkan lahan tersebut. Pemanfaatan lahan secara berkelanjutan menjadi kunci agar roda ekonomi petani tetap berputar tanpa harus menunggu musim hujan atau siklus padi kembali.
Edukasi yang diberikan tidak hanya sebatas anjuran menanam, tetapi juga mencakup pemilihan komoditas yang tepat. Jagung dipilih sebagai tanaman alternatif karena memiliki nilai ekonomis yang stabil dan daya tahan yang baik terhadap kondisi tanah pasca-padi. Dengan pergerakan yang cepat dari masa panen ke masa tanam palawija, diharapkan produktivitas lahan di Desa Karang Bongkot dapat meningkat secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Keunggulan Metode Tanpa Olah Tanah (TOT)
Hal yang menarik dalam sosialisasi kali ini adalah pengenalan kembali metode Tanpa Olah Tanah atau yang dikenal dengan istilah TOT. Metode ini menjadi solusi bagi para petani yang sering terkendala oleh tingginya biaya produksi, terutama untuk biaya membajak sawah dan penyediaan tenaga kerja. Dengan metode TOT, benih jagung dapat langsung ditanam di antara tunggul-tunggul sisa batang padi yang baru dipanen tanpa harus melalui proses pembalikan tanah menggunakan traktor atau cangkul.
Penerapan metode ini juga didukung dengan pemanfaatan limbah pertanian berupa jerami padi. Jerami yang biasanya dibakar atau dibuang, diarahkan untuk dijadikan mulsa alami atau penutup tanah. Mulsa jerami ini berfungsi sangat vital dalam menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, dan secara perlahan akan membusuk menjadi pupuk organik yang menyuburkan tanah secara alami. Strategi ini dipandang sebagai cara bertani yang ramah lingkungan sekaligus sangat ekonomis.












